Vatu Nonju
Provinsi Sulawesi
Tengah mempunyai peninggalan kebudayaan yang bernilai tinggi dan banyak
tersebar di berbagai wilayah. Kebudayaan tersebut juga masih diterapkan pada
masyarakat atau anggota suku-suku terasing yang dianggap sebagai penduduk asli
dan masih mendiami pegunungan-pegunungan, bahkan ada diantaranya yang belum mau
sama sekali mengadakan kontak dengan masyarakat sekitarnya.
Peninggalan tersebut berupa patung batu (menhir), kalamba, sarkofagus,
lumpang batu, dan masih banyak lagi jenis yang lain. Semua peninggalan tersebut
tersebar di beberapa titik di Sulawesi Tengah seperti Lembah Bada, Lembah
Besoa, Lembah Napu, Bangga, dan Vatunonju.
Pada zaman pra sejarah
diduga cara-cara manusia pada saat itu untuk memperoleh makanan pada mulanya
dari hasil pemburuan dan pengumpulan buah dan umbi umbian. Hal ini dibuktikan
oleh penemuan alat-alat yang ada di Sulawesi Tengah seperti kapak sepatu dari
perunggu yang ditemukan di desa Peura pada tahun 1976. Selain itu penduduk
Sulawesi tenggah juga mengalami banyak gelombang-gelombang perpindahan.
Rute-rute golombang
perpindahan tersebut kebanyakan mengikuti aliran-aliran sungai dan danau. Diduga
pada zaman prasejarah mereka belum mengenal penanaman padi, tapi mereka mungkin
hanya memakan jenis umbi-umbian dan semacam jelai atau gandum yang disebut
Bailo. Dugaan ini berdasarkan pada lesung-lesung yang di tinggalkannya yang
disebut Vatu Nonju yang ukurannya kecil-kecil lebih kecil dari lesung-lesung
yang dipakai masyarakat yang sudah mengenal padi.
Vatu
Nonju ditemukan di desa Tuva di kabupaten Sigi yang terletak kurang lebih 50km
disebelah selatan kota Palu. Di desa inilah Vatu Nonju ditemukan terpendam
dalam tanah selama ratusan tahun. Vatu Nonju ini ditemukan olah peneliti
Belanda bernama Dr. Kryut pada tahun 1898. Peninggalan tersebut ditemukan sebanyak enam
buah. Lumpang batu ini terbuat dari batu Mollase yang permukaannya halus dan
rata. Yaitu jenis batuan bewarna keputih putihan dan
mengandung partikel partikel Kristal putih yang sangat padat. Jenis batuan ini
banyak terdapat disekitar situs watunonju. Selain itu ditengah-tengahnya
terdapat lubang sehingga penduduk menamankannya dengan Vatu Nonju.
Permukaan lubang
Lumpang batu halus dan aus yang menunjukkan adanya bekas pemakaian bentuk lumpang
batu tampak unik, karena pada bagian tepi lumpang terdapat tonjolan atau
pelipit. Tonjolan itu diduga berfungsi sebagai penahan bahan biji bijian yang
ditumbuk agar tidak jatuh. Juga posisi lubang lumpang batu agak dipinggir,
memberikan dugaan bahwa bagian piggir dari permukaan yang rata berfungsi
sebagai wadah meletakkan bahan biji bijian sebelum atau sesudah ditumbuk.
Fungsi dari Vatu Nonju sendiri yaitu untuk upacara adat dan untuk tempat
menumbuk saito.
Selain di desa Tuva,
Vatu Nonju juga banyak ditemukan di desa Watunonju, kecamatan Sigi Biromaru,
kabupaten Sigi. Ternyata terdapat kaitan antara Vatu Nonju dengan sejarah desa
Watunonju, khususnya dalam hal penamaan desa tersebut. Penduduk asli Watunonju
adalah suatu kelompok yang bernamakan Hilonga. Pekerjaan mereka adalah berburu
dan bercocok tanam. Karena terdapat banyak lumpang batu yang ditemukan di
daerah tersebut, sehingga dinamakan Watunonju yang berarti lumpang batu.
Dahulu daerah Watunonju merupakan hutan dan
ketika itu daerah watunonju belum dihuni oleh manusia. Manusia zaman itu hidup
berkelompok dan selalu tinggal berpindah-pindah, tetapi ketika telah tumbuh
pengetahuan tentang bercocok tanam mereka umumnya tinggal di daerah pegunungan.
Lumpang
batu di Watunonju, pertama kali diteliti oleh dua orang ilmuan sekaligus
misioner Belanda yang sempat mengkristenkan Sulawesi Tengah terutama di
Kabupaten Poso yaitu ketika Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Mereka adalah
Albert Qruit dan Adrian. Khusus orang Sulawesi Tengah yang pertama kali meneliti
adalah Masyudin Masyuda (seorang budayawan Sulawesi Tengah) pada tahun 1972.
Peneliti
yang kedua yaitu Dr. Herry Sukendar pada tahun 1975. Ia menamukan empat belas
buah lumpang batu. Dia memelihara batu-batu tersebut dengan membuat lembaga
kebudayaan di Watunonju pada tahun 1978 dan dikembangkan lagi tahun 1979. Tahun
1983 Desa Watunonju pun diresimikan oleh Hariyati Subagyo (mentri sosial saat
itu) sebagai suatu objek sejarah.
Taman
Purbakala Watunonju pada tahun 1983 Desa Watunonju diresmikan oleh Mentri
Sosial saat itu Hariyati Subagyo sebagai objek sejarah. Dan sejak Desa Watunonju
resmi menjadi menjadi objek sejarah maka mulailah berdatangan
para peneliti-peneliti tentang kepurbakalaan. Ada tiga belas batuan yang saat
ini dikumpulkan dalam satu taman. Peralatan dari batu ini diduga digunakan oleh
manusia purba pada era jaman batu atau monolit. Ditemukan oleh peneliti dari
negeri Belanda, bernama Dr. Kruyt pada tahun 1898.
Dilokasi
ini juga terdapat peninggalan sejarah berupa bangunan dan benda-benda
bersejarah, antara lain Palaya (rumah), Buho (Lumbung), dan makam yang
dikeramatkan oleh penduduk sekitar. Keberadaan
Taman Purbakala Watunonju sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan,
khususnya di bidang sejarah dan arkeologi. Keunikan dan nilai historis yang
tersimpan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Gambar lumpang batu Vatunonju
http://budparsigi.blogspot.co.id/


Wiradnyana, Ketut.Prasejarah Sumatera Bagian Utara.2011.Buku Obor: Indonesia.
BalasHapusPENDIKBUD.Sejarah Daerah Sulawesi Tengah.1984.PT Rais Utama: Jakarta.