Rabu, 28 Oktober 2015

Vatu Nonju
Provinsi Sulawesi Tengah mempunyai peninggalan kebudayaan yang bernilai tinggi dan banyak tersebar di berbagai wilayah. Kebudayaan tersebut juga masih diterapkan pada masyarakat atau anggota suku-suku terasing yang dianggap sebagai penduduk asli dan masih mendiami pegunungan-pegunungan, bahkan ada diantaranya yang belum mau sama sekali mengadakan kontak dengan masyarakat sekitarnya.
Peninggalan tersebut berupa patung batu (menhir), kalamba, sarkofagus, lumpang batu, dan masih banyak lagi jenis yang lain. Semua peninggalan tersebut tersebar di beberapa titik di Sulawesi Tengah seperti Lembah Bada, Lembah Besoa, Lembah Napu, Bangga, dan Vatunonju.
Pada zaman pra sejarah diduga cara-cara manusia pada saat itu untuk memperoleh makanan pada mulanya dari hasil pemburuan dan pengumpulan buah dan umbi umbian. Hal ini dibuktikan oleh penemuan alat-alat yang ada di Sulawesi Tengah seperti kapak sepatu dari perunggu yang ditemukan di desa Peura pada tahun 1976. Selain itu penduduk Sulawesi tenggah juga mengalami banyak gelombang-gelombang perpindahan.
Rute-rute golombang perpindahan tersebut kebanyakan mengikuti aliran-aliran sungai dan danau. Diduga pada zaman prasejarah mereka belum mengenal penanaman padi, tapi mereka mungkin hanya memakan jenis umbi-umbian dan semacam jelai atau gandum yang disebut Bailo. Dugaan ini berdasarkan pada lesung-lesung yang di tinggalkannya yang disebut Vatu Nonju yang ukurannya kecil-kecil lebih kecil dari lesung-lesung yang dipakai masyarakat yang sudah mengenal padi.
Vatu Nonju ditemukan di desa Tuva di kabupaten Sigi yang terletak kurang lebih 50km disebelah selatan kota Palu. Di desa inilah Vatu Nonju ditemukan terpendam dalam tanah selama ratusan tahun. Vatu Nonju ini ditemukan olah peneliti Belanda bernama Dr. Kryut pada tahun 1898.  Peninggalan tersebut ditemukan sebanyak enam buah. Lumpang batu ini terbuat dari batu Mollase yang permukaannya halus dan rata. Yaitu jenis batuan bewarna keputih putihan dan mengandung partikel partikel Kristal putih yang sangat padat. Jenis batuan ini banyak terdapat disekitar situs watunonju. Selain itu ditengah-tengahnya terdapat lubang sehingga penduduk menamankannya dengan Vatu Nonju.

Permukaan lubang Lumpang batu halus dan aus yang menunjukkan adanya bekas pemakaian bentuk lumpang batu tampak unik, karena pada bagian tepi lumpang terdapat tonjolan atau pelipit. Tonjolan itu diduga berfungsi sebagai penahan bahan biji bijian yang ditumbuk agar tidak jatuh. Juga posisi lubang lumpang batu agak dipinggir, memberikan dugaan bahwa bagian piggir dari permukaan yang rata berfungsi sebagai wadah meletakkan bahan biji bijian sebelum atau sesudah ditumbuk. Fungsi dari Vatu Nonju sendiri yaitu untuk upacara adat dan untuk tempat menumbuk saito.
Selain di desa Tuva, Vatu Nonju juga banyak ditemukan di desa Watunonju, kecamatan Sigi Biromaru, kabupaten Sigi. Ternyata terdapat kaitan antara Vatu Nonju dengan sejarah desa Watunonju, khususnya dalam hal penamaan desa tersebut. Penduduk asli Watunonju adalah suatu kelompok yang bernamakan Hilonga. Pekerjaan mereka adalah berburu dan bercocok tanam. Karena terdapat banyak lumpang batu yang ditemukan di daerah tersebut, sehingga dinamakan Watunonju yang berarti lumpang batu.
Dahulu daerah Watunonju merupakan hutan dan ketika itu daerah watunonju belum dihuni oleh manusia. Manusia zaman itu hidup berkelompok dan selalu tinggal berpindah-pindah, tetapi ketika telah tumbuh pengetahuan tentang bercocok tanam mereka umumnya tinggal di daerah pegunungan.
Lumpang batu di Watunonju, pertama kali diteliti oleh dua orang ilmuan sekaligus misioner Belanda yang sempat mengkristenkan Sulawesi Tengah terutama di Kabupaten Poso yaitu ketika Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Mereka adalah Albert Qruit dan Adrian. Khusus orang Sulawesi Tengah yang pertama kali meneliti adalah Masyudin Masyuda (seorang budayawan Sulawesi Tengah) pada tahun 1972.
Peneliti yang kedua yaitu Dr. Herry Sukendar pada tahun 1975. Ia menamukan empat belas buah lumpang batu. Dia memelihara batu-batu tersebut dengan membuat lembaga kebudayaan di Watunonju pada tahun 1978 dan dikembangkan lagi tahun 1979. Tahun 1983 Desa Watunonju pun diresimikan oleh Hariyati Subagyo (mentri sosial saat itu) sebagai suatu objek sejarah.
Taman Purbakala Watunonju pada tahun 1983 Desa Watunonju diresmikan oleh Mentri Sosial saat itu Hariyati Subagyo sebagai objek sejarah. Dan sejak Desa Watunonju resmi menjadi  menjadi objek sejarah maka mulailah  berdatangan para peneliti-peneliti tentang kepurbakalaan. Ada tiga belas batuan yang saat ini dikumpulkan dalam satu taman. Peralatan dari batu ini diduga digunakan oleh manusia purba pada era jaman batu atau monolit. Ditemukan oleh peneliti dari negeri Belanda, bernama Dr. Kruyt pada tahun 1898.
Dilokasi ini juga terdapat peninggalan sejarah berupa bangunan dan benda-benda bersejarah, antara lain Palaya (rumah), Buho (Lumbung), dan makam yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar. Keberadaan Taman Purbakala Watunonju sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang sejarah dan arkeologi. Keunikan dan nilai historis yang tersimpan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.












Gambar lumpang batu Vatunonju





http://budparsigi.blogspot.co.id/

1 komentar:

  1. Wiradnyana, Ketut.Prasejarah Sumatera Bagian Utara.2011.Buku Obor: Indonesia.
    PENDIKBUD.Sejarah Daerah Sulawesi Tengah.1984.PT Rais Utama: Jakarta.

    BalasHapus