Jumat, 21 Desember 2018

Tanpa arah


Jalannya terseok, dengkulnya koyak, telapak kakinya usang terkena debu jalan tanpa sandal. Kulitnya hitam legam, rambutnya malah sedikit kemerahan, bau hangat tersengat sinar matahari menyelimuti sekujur tubuhnya. Entah akan kemana langkah kaki kecil yang gontai itu berjalan. Aku hanya bisa memandangnya. "Duh kasihannya dia" kuucapkan dalam hati. Katanya ketika kita berucap dalam hati, jin bisa mendengarnya. Aku berharap ada seorang jin yang dapat membantunya. Kupandang sekali lagi dengan iba. Dia tetap sama. Tapi tak kulihat ada rasa sedih pada raut wajahnya. Lalu kubiarkan dia pergi. Menyusuri jalan dengan kerikil yang berdebu itu. Kubiarkan dia. Agar sampai pada jalan aspal yang halus. Nanum panasnya dapat menembus. Tak hanya kulitnya yg akan hitam. tulang belulangnyapun akan terbakar.  kulanjutkan langkahku setelah menyusuri aspal yang panjang itu. Bersyukurlah kau kisanak, hanya dengkulmu yang koyak. Aku, hatiku sudah tercabik cabik sampai tak berbentuk lagi.

2 komentar: